Kamu orang muda Katolik? Berusia 18-22 tahun? Tinggal di Jabodetabek, suka menulis dan mau bertumbuh dalam komunitas menulis?



Gabunglah bersama komunitas penulis Agenda 18 dalam Pelatihan Dasar Jurnalistik angkatan ke-5, pada
Juli 2012.

Nantikan info lebih lanjut dari kami!


Agenda 18

Escribir Para Siempre ~ Menulis Untuk Selamanya



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

PINTU TERBUKA


Engkau tinggal di sebuah rumah berpintu terbuka
Selalu terbuka
Engkau melirik selalu ke pintu lima menit sekali
Terus berhatihati

Engkau tak menunggu siapa pun
Engkau pun tak ditunggu siapa pun
Hanya kau, pintu yang terbuka dan
Orang yang mondarmandir
Tak pula mereka melirik ke dalam
Tak pula mereka melempar batu


Engkau duduk di sebuah rumah berpintu terbuka
Engkau duduk dan menulis puisi tentang sebuah rumah
Berpintu terbuka

Engkau hendak melangkah; mencari sesuatu di luar rumah
Mungkin sebatang rokok, sebungkus kopi instant, atau mengambil uang
di mesin ATM

Ah, kau takut barangbaranmu di rumah diambil orang
Meski pada saat yang sama kau tahu orangorang tak pernah
Beranjak dari jalan di depan rumahmu untuk sekadar melirik
Apalagi masuk

Engkau berada di rumah berpintu terbuka
Engkau menjaga dengan hatihati segala di sana
Engkau pun tahu semua bisa melihat ke dalam
Engkau pun tahu tak ada satu pun mau melihat ke dalam

2011

*Terbit di Jurnal Nasional 13 November 2011.
Selengkapnya......

romero must die

romero must die

dua tangan angkat piala isi anggur

belum lagi bibir buka

dada sudah pecah dan kamu rebah

merah, bumi memerah



(domba-domba mematung kena sihir ketakutan)



waktu jiwamu lepas dari badan

lepas juga harapan dan iman

sementara kasih telah lama mati

tenggelam dalam kekerasan



(apakah kefas terus nyanyi gregorian

saat darah panas kental bikin becek lantai bawah altar?)



pembebasan!

pembebasan!

rohmu terbang sebagai api

sulut para domba jadi harap

menyala, segalanya menyala



pembebasan!

pembebasan!

tanduk-tanduk harus tabrak

kaki-kaki mesti tendang

dan kehidupan wajib terbela



(apakah kefas tetap lamban dan ngantuk

lelah tiduri kemewahan dalam merdu lagu gregorian?)



pembebasan!

di mana pembebasan?

rohmu diam menjadi sunyi



pembebasan!

ke mana pembebasan?

dan di sekolah-sekolah filsafat

rohmu beku menjadi buku



(tolong kau tanyakan pada Yesus, uskup romero,

mengapa bahasa-Nya sering beda dengan kefas punya?)
Selengkapnya......

Nuounou

cebuah cerpen

Dia berjalan dalam keheningan malam. Tak ada api, hujan, dan angin. Ini malam yang mati; malam ketika lolong anjing tak akan membuat bulu kudukmu berdiri. Ah, kisah tentang malam, tak pernah akan selesai.

Malam, sebuah lagu terdengar. Pengendara dalam badai yang berjalan menantang zaman. Butuh kau segelas anggur atau sekeresek anggur? Tinggal isi kantongmu bukan yang menentukan seleramu? Ah, sudahlah. Jangan terlalu lokal. Bukankah pencerita harus menulis cerita yang menyapa lebih banyak orang? Tapi saya bukan pencerita. Saya hanya harus menorehkan beberapa kata ketika kepala sedang penuh-penuhnya. Kau tempat sampahku! Tentu saja. Ini hanya sekadar memberi rasa berarti pada jari.

Malam yang hangat. Ah, malam. Dunianya para binatang, mereka yang dari kumpulannya terbuang, kalau kau masih mau mengenang Chairil Anwar.

Anjiiiiiiiiiing! Dunia penuh pengguna topeng menjijikan dan membuat kita ingin muntah. Tapi bukankah Nietzsche mengatakan, memang begitulah hidup? Sudahlah! Katakan saja ya pada hidup. Itu mungkin lebih membantumu. Tapi tidak. Ia seorang gila, Bung. Bukan hanya itu, Nietzsche juga punya suatu kepercayaan dan punya suatu keinginan untuk membersihkan pemikiran dan hidup dari segala pedoman hidup; dia punya satu cita-cita juga, mengembalikan semua orang pada pengenalan diri sendiri dan mengikuti jalan hidupnya sendiri-sendiri. Nietzsche seorang pengagum ‘yang entah’ (dengan huruf kecil) yang sangat fanatik sepertinya. Maka, dia sama saja dengan yang lainnya dalam hal ini; ada tujuan yang terselubung. Kita butuh tujuan atau sesuatu yang kita percayai. Walau pun tujuan memang tak pernah pasti dan kepastian nyatanya tak bertujuan. Mungkin!

Arrrrrrgh, aku butuh anggur saat ini; semacam menghirup kembali intuisi Dionisian. Hidup kadang memang sungguh meresahkan di satu sisi tetapi begitu nikmatnya di sisi yang sama.

Aku sedang ingin menulis. Menulis sesuatu, yang tak perlu berarti untuk orang lain atau berarti untuk diri sendiri atau berarti untuk tulisan itu sendiri. Aku hanya sedang ingin menulis, sedang ingin dan sedang ingin saja. Mari tak bertanya apa-apa. Oke?

Ada sebuah kisah tentang Dionisius ini. Di sebuah pulau, yang saya lupa pulau apa, Dionisius dan kekasihnya, Corona, hidup bahagia. Namun suatu ketika, mampirlah di situ seorang pahlawan Sparta yang pulang dari perang saudara. Saya pun, maaf, lupa namanya. Dionisius waktu itu tengah berada di ladang anggurnya. Corona seketika itu juga jatuh cinta dan pergi bersama sang pahlawan, kesatria itu.

Sudahlah, mari kita tinggalkan Dionisius. Saya sedang menginginkan sesuatu yang lain; semacam kehangatan dalam selimut waktu, di suatu tempat yang entah, di suatu janji yang entah, di suatu masa depan yang entah juga, di sebuah suasana yang entah juga. Ah, keentahan, keingintahuan atasnyalah mungkin terkadang membuat kita bertahan di sini, melakukan hal-hal tak penting ini; merokok, mendengarkan musik, seperti menunggu Godot. Atau mungkin lebih indah dibilang mengejar Godot atau mencari Godot? Mungkin tiga kata itu punya esensi yang sama; mengejar, mencari, dan menunggu dalam hal ini berobjekan Godot.

Ufh, hopiofola…. Hufh, hopiofola… Hufh, ah…. hopiofola. Kupanggang benda tanpa sapa asal.

Mungkin mengisi kekosongan ini, kita kembali pada Dionisius. Ketika Dionisius kembali dari ladang anggurnya, ia tak menjumpai Corona. Seketika, tahulah ia, Corona telah pergi meninggalkannya. Di tangannya, Dionisius menggenggam mahkota dari zaitun buatannya yang hendak dipersembahkannya untuk Corona. Dalam kesedihannya, Dionisius mengeluarkan segala anggur yang dimilikinya. Ia, penghuni hutan, dan makhluk-makhluk penceria kemabukan yang dengan mata telanjang tak mungkin kita lihat, berpesta pora anggur malam itu di tengah hutan.

Anda para pejuang yang menganggap sesuatu yang anda inginkan harus menjadi milik pribadi anda, mungkin berandai Dionisius pada suatu ketika akan mencari Corona dan mempersembahkan mahkota indah yang dibuatnya itu? Hem, ternyata tidak. Tidak, saudara-saudari. Dalam kemabukan amat sangat dan tanpa syaratnya, disaksikan makhluk-makhluk hutan dan makhluk-makhluk penceria kemabukan yang lain, Dionisius dengan penuh khidmat mengambil mahkota itu. Sepenggal saat, Dionisius memperhatikannya dengan saksama. Lalu dengan teriakan lantang, (saya ingin menambahkan dengan berlinang air mata di sini, tetapi tentu terkesan sangat hiperbolis) Dionisius sekuat tenaga melemparkan mahkota itu ke langit. Mahkota itu terbang, terus terbang dan terus terbang, entah didorong apa atau entah membawa apa. Gerak perginya mahkota itu mengabadi, mewujud petanda, mewujud pedoman para pemabuk. Pandanglah langit, bila anda melihat sebuah rasi bintang indah berbentuk mahkota, itulah rasi bintang Corona, tanda keabadian gerak pergi kenangan Dionisius

Lalu, malam itu pun berubah fiksi. Seseorang datang padaku dan duduk di sampingku. Kami tak berbicara apa-apa. Orang itu mungkin ingin berbicara sesuatu tetapi saya memang sedang tak mau berbicara apa-apa. Demi kesopanan, anda harus mengingat hal ini sungguh-sungguh, kesopanan! Saya lalu menyapanya, memulai sebuah pembicaraan.

“Malam yang dingin.”

Dia menjawab,

“Hujan pertama yang jatuh.”

“Seperti ada yang hendak dibisikan Sang Dingin.”

“Sawah dan ladang berceria.”

“Ah, telingaku belum terbiasa dengan bahasanya.”

“Petani-petani di desa, hahahahahaha, mereka pasti bahagia. Sungguh bahagia. Aku teringat, ayah selalu akan tersenyum bahagia bila hujan pertama turun ke bumi. Ibu menggigil kedinginan, ayah lantas menyuruhku, anak satu-satunya mereka waktu itu, segera tidur. ‘Akan ada kilat jahanam yang menculik anak kecil ketika hujan pertama’.”

“Terkadang aku berpikir, kegelapanlah tempat di mana segalanya tersedia. Dengan berteman kegelapan, hidup menjadi mudah untuk dijalani. Engkau pasrah pada misteri, engkau awas pada bahaya menghadang, engkau sedia pada segala yang tak tersedia.”

“Ah, Bapak, aku rindu padamu.”

“Ada banyak jenis malam. Aku baru mengenal sepuluh di antaranya. Aku sedang menunggu yang keempat. Ia berjanji akan menemuiku di sini, beberapa saat lagi. Atau mungkin, anda utusannya?”

“Aku akan mengambil cuti barang empat hari bulan depan dan pulang sebentar ke kampung. Anakku mungkin kubawa serta. Ibunya jelas tak bisa ikut. Jatah cutinya sudah habis.”

“Malam adalah teman semua orang. Tak ada yang tak. Kegelapannya membuat orang rindu padamu. Dinginnya, membuatmu merindu rasa hangat.”

“Kemarin, adik bungsuku menelepon. Ayah sudah tak kuat lagi turun ke ladang, katanya. Yah, tentu aku paham itu. Sudah dari enam bulan lalu, aku melarangnya bekerja. Tinggal saja denganku. Tapi ayah tak mau. Katanya, tunggu sampai ayah tak mampu menolak segala ajakan apa pun, baru kau bawah ayah ke rumahmu.”

Kami lantas diam. Malam semakin larut saja. Taman itu, tak seterang lima minggu yang lalu. Beberapa lampu taman sudah pecah. Ada yang sengaja dipecahkan dan bolam di dalamnya diambil, ada yang pecah akibat permainan anak-anak. Seorang gelandangan tidur nyenyak di balik perdu. Aku memandang sekeliling; tak ada yang terlihat lewat. Langit mulai bercahaya.

“Senja segera tiba. Ayo pulang, Bung!”

Kami pun melangkah bersama, pulang ke rumah.


pada sepenggal dinihari 5/12/09

ketika dingin memuntahkan isi perutnya

dan malam berbisik lirih, “manusia itu sendirian, Bung!”

Selengkapnya......

JIKA TERLALU MEMUJA DIRI

The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement, Jean M. Twenge & W. Keith Campbell, New York: Free Press, 2009.

Minggu-minggu lalu banyak orang di Amerika dan dunia dihebohkan dengan kabar soal sebuah balon gas yang mengudara di kawasan Denver, dengan dugaan ada seorang anak berumur 4 tahun di dalamnya. Segera media menjadikannya liputan dengan nuansa human interest. Berjam-jam liputan ditujukan pada nasib balon gas serta nasib si anak balita tadi. Ketika balon gas akhirnya mendarat, ternyata si anak tak ada di situ.

Muncul kepanikan baru, jangan-jangan si anak terjatuh dari angkasa. Kepanikan terjadi, spekulasi macam-macam muncul. Belakangan diketahui si anak bersembunyi di rumah temannya karena habis dimarahi ayahnya. Lebih mengagetkan lagi, rencana ini semua adalah sandiwara yang dilakukan ayahnya guna kontrak dalam sebuah program televisi reality show untuk drama tadi. Banyak orang kemudian marah-marah mengetahui akhir cerita ini.

Reality show adalah salah satu bagian dari proses bagaimana banyak orang di belahan dunia ikut terkena epidemi: epidemi narsisme. Jean M. Twenge & W. Keith Campbell, penulis buku ini yang juga adalah para psikolog, melihat bahwa di Amerika masalahnya makin terlihat bagaimana narsisme makin menjadi-jadi. “Bukan karena narsisme adalah bagian dari budaya orang Amerika, tetapi orang biasa-biasa pun jadi tergoda untuk menonjolkan kekayaan mereka, penampilan fisik mereka, pengidolaan atas para selebriti, dan aneka kegiatan mencari perhatian.”

Twenge dan Campbell (keduanya associate professor psikologi dari dua universitas yang berbeda: San Diego State University, dan University of Georgia), menyebut narsisme sebagai epidemi karena : “…penyakit ini menjangkiti sejumlah besar individu dalam masyarakat”. Untuk konteks Amerika narsisme ini adalah penyakit yang sama seriusnya dengan penyakit obesitas (kegemukan). Bahkan untuk narsisme pun ada pengukuran saintifik yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD), dimana 1 dari 4 mahasiswa memenuhi symptom NPD tersebut. Atau jika penelitian diperluas: 1 dari 10 orang Amerika yang berusia 20-an tahun mengalami symptom tersebut, atau 1 dari 16 orang Amerika dari segala usia juga mengalami symptom yang sama.

Narsisme sendiri adalah perilaku yang memuji diri sendiri, atau menjadikan diri sendiri sebagai pusat kegiatan. Menurut Twenge dan Campbell, narsisme bukanlah soal self-esteem (kepercayaan diri) yang umumnya ditanamkan dan diacu untuk meningkatkan rasa nyaman diri seseorang. “Narsisme adalah sebentuk kepercayaan diri yang berlebihan” katanya. Narsisme menjadi terutama dalam hal berhubungan dengan orang lain, dimana orang yang narsis akan kehilangan empati ataupun kepekaan saat berhadapan dengan orang lain. Yang lebih penting adalah dirinya terus menerus dipuja.

Jika merujuk pada asal kata narsis, kita akan bertemu dengan sosok Narsisius, seorang pemuda tampan dari khasanah legenda Yunani, yang selalu menolak wanita-wanita cantik yang berupaya mendekatinya. Sampailah ketika ia duduk di pinggir danau dan menengok atas air yang tenang, ia menemukan wajah pemuda tampan yang sempurna. Narsisius tak sadar bahwa bayangan itu dirinya sendiri, dan ia hidup terus dengan kecintaan atas bayangan pada air danau itu.

Twenger dan Campbell sepakat untuk menyebut 4 fenomena sebagai akar yang menghasilkan epidemi narsisme: perlakuan orangtua yang berlebihan kepada anak, fenomena para selebriti serta media-media yang mentransmisikan narsismenya, merebaknya dunia cyber dan kompetisi untuk mendapatkan perhatian, serta kemudahan fasilitas kartu kredit yang membuat orang tergiur untuk terus berbelanja dengan kartunya tanpa berpikir soal pembayarannya kelak.

Alarm yang dinyalakan oleh dua penulis ini sangat tepat, justru di saat dimana fenomena narsisme menjadi makin menggila. Kita pasang Youtube (ingat semboyannya: “broadcast yourself”?), juga kita bisa memasang My Space (“My Space is your space – express who you are”), atau juga Facebook, jaring sosial yang makin populer di berbagai kalangan usia. Alarm ini penting untuk dinyalakan karena melihat betapa gejala narsisme, sebagaimana dikatakan dua penulis ini, menekankan sifat manusia terutama dalam soal materialistis, keunikan diri, perilaku antisosial, masalah hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.

Singkat kata narsisme bukanlah keutamaan (virtue), tapi malah ia menjadi gangguan. Percaya diri secukupnya penting, tapi jika ia berlebih, ia jadi suatu problem baru.

Buku ini penting untuk dibaca banyak pihak, dan mungkin baik juga untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, agar semakin banyak orang bisa memahami fenomena memuji diri sendiri yang terlalu berlebih itu. Narsisme memang dekat dengan fenomena memoles citra terus menerus dan menjadikannya makin lama makin jauh dari kenyataan sesungguhnya.

Para artis, orang biasa-biasa, politisi, para pejabat, tampil secara narsis. Paling utama terlihat pada masa-masa kampanye beberapa bulan silam semasa pemilihan umum. Kini kita pun masih sering menemukan tampilan narsis dari berbagai pejabat yang memasang billboard besar-besar di pinggir jalan dengan wajahnya serta aneka pesan ‘pembangunan’nya. Para motivator ataupun para ‘marketer’ yang laku di kalangan pebisnis harus menampilkan foto ketika mengiklankan suatu event.

Memang ini fenomena hyper realitas sebagaimana sering disebut oleh Baudrillard. Orang senang dengan ‘yang semu’, dan tak jemu untuk terus dibohongi. Citra mendahului kenyataan, dan yang penting adalah apa yang jadi kulit luar ketimbang apa yang jadi intisari masalah. Jadi, anda masih mau narsis?

(terbit di Ruang Baca, Koran Tempo 29 November 2009)
Selengkapnya......

Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak kering untuk dibahas. Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak.


Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar dalam mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan karya nampak; mencari yang tak disadari, buah dari kerja yang tanpa disadari pula. Maka, setiap pembacaan dengan sudut pandang apa pun sangat mungkin mengungkapkan hal-hal yang menyusup tanpa sadar ke dalam karya sastra. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.

***

Kenapa saya sebut Halimunda adalah kerabat Macondo? Pasalnya, dalam pembacaan sepintas pun terlihat bagaimana kesamaan antara keduanya; pertama sama-sama menggunakan gaya realisme magis. Realisme magis sendiri merupakan gaya penulisan yang menggunakan surealisme dan realisme secara bersamaan serta tak terpisahkan. Istilah ini diambil dari kasanah seni lukis oleh kritikus sastra untuk mencandrakan karya Marquez, Grass (The Tin Drum) Borges, Okri serta Eka Kurniawan. Elleke Boehmer (dalam Bandel, 2003) mengatakan, bahwa gaya realisme magis sangat cocok bagi penceritaan tanah-tanah pascakolonial untuk menceritakan dirinya dengan kaca matanya sendiri. Kedua, STK dan CIL punya atribut-atribut cerita yang hampir-hampir mirip.

Salah satu yang paling kentara adalah kedua novel ini menyertakan pohon silsilah. STK tentang silsilah keluarga Buendia sedangkan CIL silsilah anak cucu Ted Stammler. Keduanya mengambil latar tempat kota imajiner, seperti yang diungkapkan pada awal tulisan ini. Peristiwa moksa terdapat pada keduanya; Maman Gendeng di CIL dan Si Cantik Remedios pada STK. Perlindungan terhadap keperawananpun terdapat pada keduanya; Ursula dengan “…celana dalam yang panjang buatan ibunya dari kain layar yang diperkuat dengan tali kulit yang disiliang-menyilang dan bagian depannya ditutup dengan gesper besi tebal.” (STK, hal.27). Sedangkan Alamanda dalam CIL menggunakan “…celana dalam terbuat dari logam dengan kunci gembok yang tampaknya tak memiliki lubang anak kunci untuk membukanya.” (CIL, hal. 248) Bahkan, Alamanda menggunakan semacam mantra khusus. Perkawinan sedarah muncul tak putus-putus dalam kedua novel ini. Si Cantik Remeditos muncul kembali dalam persamaan berikut; keluguan dua tokoh perempuan yang cantiknya tak terkira, bahkan akibat kecantikan itu, laki-laki yang melihatnya dipastikan akan demam tinggi dalam beberapa minggu; Rengganis Si Cantik dalam CIL dan Si Cantik Remeditos dalam STK. Bedanya, Si Cantik Remeditos akhirnya moksa. Berarti, kecantikan dan keluguannya tak tersentuh apa pun. Sedangkan Rengganis Si Cantik diperkosa oleh saudaranya sendiri, Krisan, hingga melahirkan seorang anak. Kedua novel berakhir dengan pandangan yang cenderung nihilis; STK dengan ketak-bersisaan ‘dinasti’ keluarga Buendia di Macondo dan CIL diakhiri dengan kenyataan, bahwa kutukan Ma Gedik ternyata akan terus berlanjut.

***

Menengok pendapat Elleke Boehmer di atas, tentu kedua novel menjanjikan sesuatu ketika dibaca dengan sudut pandang postkolonialisme. Kaca mata satu ini yang adalah varian postmodernisme mengandaikan adanya pengetahuan sejarah kolonial dari tanah pascakolonial tempat karya itu lahir. Maka dengan penuh kerendahan hati, tulisan ini akan lebih fokus pada CIL dengan terkadang menengok sebentar pada STK.

Adalah menarik ketika melihat tokoh sentral CIL adalah Dewi Ayu. Walau pun banyak yang mengatakan, bahwa cerita ini bercerita tentang keturunan Ted Stammler, kata Stammler sendiri sangat jarang muncul. Saya lebih condong menyebut cerita ini sebagai kisah Dewi Ayu dan keturunannya. Dewi Ayu adalah seorang indo tiga perempat Belanda, seperempat pribumi Indonesia. Indo merupakan warisan kolonial yang paling nyata. Biasanya, seorang Indo (pada masa penjajahan) akan lebih condong pada darah Belandanya. Ini akan ditujukan pula dengan penggunaan nama Belanda di antara mereka. Sekolah-sekolah modern barat a la Belanda sangat berperan dalam konstruksi pembeda-bedaan ini. Sekolah-sekolah Belanda bahkan akan menamakan semua muridnya dengan nama Belanda. Minke dalam tetralogi Buruh Pramoedya serta Corrie dalam Salah Asuhan pun demikian. Adalah sesuatu yang aneh ketika Henri Stamler dan Aneu Stamler menamai anak mereka Dewi Ayu; sebuah nama yang sangat pribumi. Namun baiklah kita menerima Dewi Ayu sebagai Indo yang lebih memilih Indonesia ketimbang Belanda. Hal ini semakin dibuktikan dengan kekeras-kepalaan Dewi Ayu untuk tetap tinggal di Halimunda ketika semua keluarganya meninggalkan Indonesia.

Dewi Ayu bisa dilihat pula sebagai simbol tanah Indonesia pasca VOC yang masih tetap eksotis, indah dan menantang untuk disetubuhi. Kolonialis cenderung menampilkan diri sebagai laki-laki, maskulin, agresif dan tanah jajahan kerap disimbolkan dengan perempuan perawan, cantik rupawan, lugu dan siap ditaklukan laki-laki.

Kolonialisme Indonesia dalam CIL adalah Indonesia pasca VOC (yang ditandai dengan Dewi Ayu: nama Indonesia dengan darah campuran: warisan VOC). Maka tak heranlah ketika Komandan Bloedenkamp (mewakili Jepang) menghadapi Dewi Ayu (simbol Indonesia) yang menyerahkan diri tanpa syarat, Komandan itu memperkosa dengan “…menyerangnya dengan ganas, langsung tanpa basa-basi…” (CIL, hal. 77) sedangkan Dewi Ayu hanya bisa menghindar ketika laki-laki itu hendak mencium bibirnya. Itulah kali pertama Dewi Ayu benar-benar disetubuhi laki-laki.

Dalam ketakberdayaan sebagai “pelacur karena keadaan”, Dewi Ayu bukan tak melakukan perlawanan. Berkali-kali ketika prajurit Jepang menyetubuhinya, Dewi Ayu hanya berbaring saja, tidak melakukan apa pun, seakan pasrah, sama sekali tak berusaha mengimbangi permainan cinta menggebu-gebu para prajurit itu. Nampak di sini kemiripan cara perlawanan Dewi Ayu dengan perlawanan a la Gandhi.

Selepas kepergian Jepang, Dewi Ayu beberapa kali diperkosa para gerilyawan. Ketika kemerdekaan Indonesia (yang ternyata di Halimunda diketahui belakangan) Dewi Ayu menjadi pelacur primadona di Halimunda. Bila masih mau mengartikan Dewi Ayu sebagai tanah negara pascakolonial Indonesia ini, ditemukanlah betapa kita semua adalah pengkhianat tanah ini. Dewi Ayu bukan saja ditiduri prajurit Jepang, tubuhnya juga dinikmati tentara gerilya, preman kesohor Halimunda (Maman Gendeng), orang yang ditunjuk sebagai pemimpin TKR (Shondanco) dan juga oleh hampir semua lelaki di Halimunda.

Tanah Indonesia yang disimbolkan Dewi Ayu tetap menjadi tanah jajahan, tanah kolonial bahkan ketika ia sudah merdeka. Para imperialis sekarang adalah anak-anak tanah itu sendiri. Maman Gendeng, Shodanco, Kamerad Kliwon dan semua lelaki yang meniduri pelacur Dewi Ayu adalah simbol hampir semua orang di negeri ini yang di satu sisi begitu hebohnya merayakan hari kebangkitan nasional, namun di sisi lain mewarisi dan terus melestarikan semangat imperialis. Maka, siapa yang melukai Halimunda, kota imajiner representasi Indonesia itu?

CIL mengakhiri dunianya dengan sebuah kenyataan, bahwa kutukan Ma Gedik akan terus berlanjut. Itu berarti, semangat imperialis yang terus dilestarikan dan diidap itu akan terus ada. Maka, ia pun sebenarnya menyisakan pertanyaan ; apakah kita harus hidup terus dalam kutukan atas warisan kolonial ini?


-Pendar Pena No. 6 thn I Mei 2008 (edisi sastra)
Selengkapnya......

Kotak Pandora Idola Show

Hampir setiap hari di layar RCTI, anda bisa menyaksikan sebuah reality-variety show dengan tajuk menjanjikan, Idola Cilik. Acara yang berpeserta anak-anak 7-12 tahun ini layak diperhatikan dalam rangka rencana KPI mengumumkan program televisi buruk April mendatang. Tulisan ini sekedar catatan kecil acara Idola Cilik itu.

Theodor Adorno dalam pandangannya tentang musik pop mengatakan, sekali pola musikal dan/atau lirikal ternyata sukses, ia dieksploitasi hingga kelelahan komersial. Pernyataan itu bisa diberlakukan juga pada idol-idol show di televisi Indonesia. Dimulai dari AFI di Indosiar, Indonesian Idol di RCTI, API di TPI, Idola Cilik di RCTI dan masih banyak lagi adalah acara-acara bertipe sama. Ketika bentuk acara ini berhasil menduduki rating teratas, menjamurlah acara-acara serupa.


Panggung Gemerlap Selebriti

Televisi kita ‘memberi jalan’ pada siapa saja untuk menjadi selebritis. Janji ini membuai masyarakat kita. Ini artinya, televisi telah memproduksi negative narcissism desire (Piliang, 2003), hasrat untuk diakui, dipuja, disanjung orang lain. Pengakuan kolektif atas individu ini dimungkinkan oleh gaya dan penampilan, image sebagai selebriti.

Televisi yang cengkramannya melampaui batas-batas teritorial ditonton di seluruh Indonesia oleh pemirsa yang hampir semuanya tidak kritis. Hasrat menjadi selebriti yang diproduksi televisi menjadi hasrat kolektif masyarakat kita. Lewat idol shom-idol show, televisi memberi jalan untuk hasrat ini diejawantahkan. Maka, berbondong-bondonglah calon selebriti dengan energi libido komunalnya berlomba menjadi selebriti.

Dengan cara kerja demikianlah, Idola Cilik memboyong anak-anak kota dan desa ke panggung gemerlapan selebriti. Anak-anak ini (khususnya anak desa) dicabut dari hidup tradisional agraris atau maritim lantas dijejali panggung gemerlap selebritis; jenis manusia ‘penting’—bahkan bedaknya dan restoran favoritnya pun ‘wajib’ kita ketahui—yang diciptakan televisi. Di saat yang sama, bangsa ini tengah menghadapi fase melemahnya sektor pertanian dan kelautan.

Anak-anak menyerahkan diri pada Idola Cilik untuk dipoles jadi hebat, jadi terkenal dan jadi sukses dalam waktu cepat. Dengan kata lain, anak-anak membiarkan dirinya menjadi boneka televisi, menjadi selebriti a la televisi yang bisa kapan saja dienyahkan dan diganti dengan yang baru. Lihatlah, betapa cara kerja mesin virtual ini menjadikan manusia sekedar komoditas yang habis manis sepah dibuang. Ironisnya, selebriti di televisi kita begitu mengamini kenyataan ini dan menganggap hal ini wajar saja. Betapa mereka merendahkan derajat kemanusiaan mereka di depan sebuah mesin virtual kapitalis.

Siapa tahu Indonesia ke depan tak lagi punya ilmuwan, pemikir, pekerja keras yang citranya mengabur dan posisinya tak ada di panggung televisi kita? Malahan, kita akan punya berjubelan artis-artis yang bukan lagi sibuk berlatih nyanyi atau akting, melainkan sibuk cerai sana-sini, gemar selingkuh kiri-kanan di televisi. Selebriti-selebriti yang berebutan cari sensasi demi tetap survive.

Mari Berkompetisi

Idola Cilik, sebagaimana idol-idol show lainnya, menerapkan metode kompetisi yang dibaluti varian-varian lain dalam acaranya. Kompetisi paling tidak punya dua kemungkinan; kalah dan menang. Pemenang akan bangga dan disanjung-sanjung, sedangkan sang kalah akan terpuruk dan merasa diri tak mampu. Seluhur dan semulia apa pun tujuan sebuah kompetisi itu, ia tetap bermasalah. Bahkan dari pandangan Everett Reimer, sekolah yang adalah juga ajang kompetisi itu pun menghasilkan hal serupa. Betapa menggenaskan nasib peserta Idola Cilik. Selain masa kanak mereka terampas bangku ‘kompetisi’ sekolah, mereka juga harus berkompetisi pula di Idola Cilik.

Disaksikan berjuta-juta anak Indonesia, berguguranlah mereka yang tak mampu, bersuara jelek, mereka yang tak mampu menjaring banyak SMS. Lihatlah di panggung Idola Cilik. Peserta yang di- just kalah kerap menangis tanpa dihampiri siapa pun, sedangkan yang menang akan dielu-elukan. Terlepas dari ini bisa saja ‘settingan’ demi menarik perhatian pemirsa, namun membiasakan anak-anak meratapi kekalahan adalah naif. Ada paling tidak dua kemungkinan pula ketika yang kalah menangisi kekalahannya; pertama dia akan bangkit dan berjanji akan tetap survive atau kedua, dia akan begitu mendendam pada situasi kekalahannya ditambah minder dan merasa diri tak mampu. Apa yang terjadi ketika itu? Dendam individual yang berpotensi menjadi dendam kolektif. Maka, janganlah heran bila kekerasan, kecemburuan, balas dendam akan terus terpelihara di Nusantara ini.

Idola Cilik bersama idol show-idol show lainnya menjelma kebutuhan manusia Indonesia, serentak menjamurnya televisi di seluruh pelosok negeri. Televisi kita yang perjalanannya dimulai pada 23 Oktober 1961itu, terasa seperti menyimpan bom waktu. Dari bersemangat menyebarkan pengetahuan, memperkokoh persatuan bangsa, hingga mencari keuntungan sebesar-besarnya, televisi mengkreasikan berbagai acara, salah satunya Idol Show Idola Cilik. Terlepas dari berbagai tujuan mulianya yang lain, Idol Show jelas-jelas mencari keuntungan dengan menjual anak-anak Indonesia. Pertanyaannya, apakah keuntungan itu harus beriringan dengan berkembangnya budaya instan, negative narcissism desire, suasan kompetisi yang menghancurkan jiwa anak Indonesia? Rupanya hal ini harus disikapi para stakeholder televisi, sehingga acara anak-anak di televisi bukanlah kotak Pandora yang membawa petaka untuk masa depan bangsa.

(dimuat di Diurna, edisi Mei 2008)
Selengkapnya......

Ketika Kupandangi Kau, Aku Bersedih

Selamat pagi jakarta
Gelisahmu gagap
Melebur deru dalam beludru

Kita ‘kan pilih presiden baru
Sejarah yang itu itu saja
Adalah jalan menurun yang sangat landai


Selamat pagi jakarta
Tak ada lagi Malaka, Syahrir, semaun, atau pun Hatta
Di zaman manipulasi ini
Tapi kita butuh Don Quixote

Selamat pagi Jakarta
Lima rumah kontas untukmu

13:20:07
2009/05/27
Selengkapnya......

Orang yang Paling Sah Diracun

Sekitar sebulan terakhir perasaan saya campur aduk antara sedih, kecewa, tapi juga geli. Dan dalam tiga hari terakhir perasaan-perasaan itu tambah membuncah. Pasalnya saya baru saja membuktikan bahwa saya masih hidup di dan dengan cara dunia ketiga. Baru sekitar sebulan yang lalu bala tentara pertahanan tubuh saya nyahok lawan para begundal bakteri typhus. E… sebulan kemudian, tepatnya tiga hari lalu, serangan diare kembali luput dari pertahanan.


Dalam kondisi seperti ini yang jadi korban adalah istri, yang harus super sibuk menjalankan sejumlah peran sekaligus: ahli gizi, dokter, jururawat, koki, sopir, tukang cuci, tukang pijat (dalam kondisi sehat maunya barter), sampai konsultan yang advise-nya kayak ”grontol wutah” (bagi yang nggak ngerti, bayangkan saja cara bicara lawyer yang dibayar empat kali lipat harga pasarnya).

Saya cuma bisa tutup mulut, tergolek nggak lucu di tempat tidur.

Saya memang representasi kaum urban Jakarta yang mengalami gegar budaya. Kepada teman dan saudara di kampung yang saya anggap ndeso saya sering dengan pongah bercerita tentang Singapur, Kuala Lumpur, Hong Kong, London, Cardiff, Amsterdam, Paris, Hannover, atau Frankfurt. Bahkan juga bercerita pernah kencing di atas India, Pakistan, Laut Mati dan Italia (yang terakhir ini mengikuti teman saya Abraham Runga, yang bercerita, ”Abangmu ini pernah kencing di atas New York dan Toronto”). Tapi tetap saja, saya paling menjadi diri sendiri ketika nongkrong di warung tenda biru, nyeruput kopi tubruk murahan sambil mengudap somay, pisang goreng, atau bakwan bumbu. Kalau janjian dengan Abraham, teman saya tadi, kami juga tidak nongkrong di kafe yang penuh dengan pengunjung wangi, tapi di warteg di Jl. Mas Mansyur, yang bau amis oleh ”keringat kaum proletar”...

Nah, saya lantas ingat seorang narasumber saya, Pak Januar Darmawan. Orang miskin (dalam bahasa saya) memang paling sah untuk diracun. Perlindungan kesehatan pangan hanya berlaku untuk mereka yang berduit.

Logikanya begini. Lihat saja aturan-aturan mengenai makanan. Semuanya hanya menyangkut makanan dalam kemasan luks. Setiap pihak yang memproduksi dan menjual makanan dalam kemasan luks (nggak tertulis begitu sih, tapi makanan yang dibungkus plastik seolah bebas dari aturan) harus mencantumkan ingredien makanan, dan produk itu harus lolos uji dan standar kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Mleset sedikit saja dari ingredien yang tertulis, jangan tanya... produsen itu akan langsung jadi bulan-bulanan ”reportase investigasi” teman-teman saya, haha... Sempurna sudah perlindungan untuk kaum kaya, dengan anjing-anjing penunggu (watch-dog) yang galak.

Tentu saja aturan itu tidak jelek. Yang jelek adalah ketidaksadaran (benarkah???) bahwa aturan itu akhirnya hanya efektif melindungi kelompok pembeli yang mampu membeli makanan dalam kemasan mewah (berbahan baku karton atau aluminium foil, dicetak dengan desain grafis yang bagus). Mereka yang membeli makanan murah (entah karena maunya atau karena mampunya) secara otomatis tersingkir dari cakupan perlindungan tersebut. Bayangkan saja. Setiap hari mereka (termasuk saya, haha...) berhadapan dengan makanan yang non-standar. Bagaimana mau standar? Warung makan model ini jualan makanan apa saja nggak ada yang peduli. Jual bakso yang sempet kecemplung comberan pun nggak ada susahnya. Seorang teman bercerita, di Slipi dia lihat tukang mi ayam mengumpulkan sawi yang tidak dimakan pelanggannya, mencucinya (biar sehat kaleee...) dan mencampurkan pada porsi mi ayam berikutnya.

Terus terang saya nggak berani berharap pemerintah akan membuat standarisasi warung atau penjaja makanan kaum miskin. Di negara yang (ironis nggak sih?) sangat saya cintai ini standarisasi selalu dipersepsi sebagai sesuatu yang birokratis, susah, ribet, mahal, legalistis... sebut saja... Para elit lebih merasa diri berbobot ketika membual tentang sesuatu yang saya khawatir mereka sendiri nggak paham: neoliberalisme, jalan tengah, ekonomi kerakyatan... Bakso kecemplung comberan ... fiuh... sama sekali nggak gengsi.

Saya lebih berharap ada LSM yang sungguh peduli (jangan-jangan ini mimpi yang lebih parah), yang mau melakukan standarisasi warung makan kaum miskin ini. Mimpi saya, LSM ini akan membina para penjaja makanan mengenai standar kebersihan dan kesehatan, baik di tingkat poses, produk maupun lingkungan (warung). Warung-warung yang lolos standar ini akan mendapat label yang mencolok: Warung Sehat...

Oh iya... tapi kalau warung itu lantas laris, harga kopi tubruk dan somaynya jangan-jangan naik... sial juga. Haha, dasar ide proletar...
Selengkapnya......

NYANYIAN PEZIARAH

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Ia seperti riak-riak kecil dalam lautan ketenangan
Ia seperti guncangan-guncangan dalam padang kemapanan
Ia seperti roda-roda putar dalam kemandegan
Ia seperti ikan-ikan kecil lepas dari pusaran arus

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Jadi diri sendiri di tengah wajah-wajah seragam
Jadi pembangkang di tengah ketaatan bodoh
Jadi pendosa di belantara orang suci yang palsu
Jadi orang asing di depan jiwa-jiwa tak berwajah

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Memilih berjalan daripada berpangku tangan
Menyelami kedalaman di tengah samudra kedangkalan
Mengatakan tidak, jika tidak
Mengatakan ya, jika memang ya

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Membaca apa yang tidak terbaca
Mendengar apa yang tidak terdengar
Mengatakan apa yang tidak terkatakan
Melakukan apa yang diacuhkan


Cinta adalah jiwa pemberontakan
Membebaskan dari belukar ketidakbebasan
Memaknai segala ketakbermaknaan
Mengembangkan di dalam arus pengekangan

Dan kami bertekad saling mencintai
Saling memerdekaan, bukan membelenggu
Saling mengembangkan, bukan memasung
Saling menghormati, bukan menindas
Kami mau memadukan langkah-langkah dalam peziarahan
Peziarahan di JALAN PEMBERONTAKAN....


@ Hari Kristus Raja Semesta Alam, 26 November 2006. Diterbitkan di Buku Misa Pernikahan Sigit Kurniawan dan Natalia Alami Asih
Selengkapnya......

Facebook Page

Agenda18 on Facebook

Twitter @agenda18

Twitter Button from twitbuttons.com
    follow me on Twitter

    Pembaca

    Langganan Lewat Email

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

    Cari di Agenda 18

    Loading...

    Laci Agenda 18

    Sampaikan Salam

    FEEDJIT Live Traffic Feed